Berikut Temuan PUPR: Ada 40% Rumah Subsidi yang Tak Layak Huni

Pemerintah sekarang ini tengah menilai penerapan program sejuta rumah yang sudah terwujud semenjak April 2015 kemarin. Hasil dari monitoring yang sekarang ini tengah berjalan itu, diketemukan beberapa aduan dari customer tentang rendahnya kualitas rumah bersubsidi.

Dirjen Pembiayaan Perumahan Kementerian PUPR Lana Winayanti menjelaskan, hasil dari monitoring yang dikerjakan oleh Direktorat Jenderal Pembiayaan Perumahan bersama dengan Pusat Pengendalian Dana Pembiayaan Perumahan (PPDPP), ada seputar 30-40% rumah bersubsidi yang sudah akad credit tidak ditempati oleh pembelinya.

Baca Juga : Harga Pagar Besi

“Ada penemuan, jika banyak rumah bersubsidi yang tidak ditempati, lumayan besar memang, 30-40%. Serta saat diwawancara penghuninya, mengapa tidak ditempati sebab tempat tinggalnya tidak wajar untuk ditempati. Terpenting untuk air bersih serta listrik,” tuturnya dalam sambutan pada acara sarasehan di Kementerian PUPR, Jakarta, Senin (21/8/2017).

Angka 30-40% sendiri datang dari keseluruhan rumah subsidi yang sudah dialirkan. Bila dihitung dari jumlahnya unit rumah subsidi yang sudah dialirkan sampai sekarang ini sekitar 504.079 unit, jumlahnya rumah subsidi yang tidak ditempati oleh pemiliknya itu bermakna sampai 150.000 sampai 200.000 unit rumah.

“Kita tahu bersama dengan, ada rumor kualitas bangunan rumah bersubsidi. Meskipun Presiden telah bertandang ke lapangan serta mengatakan senang ke lokasi-lokasi, tetapi yang dikatakan Menteri PUPR berkali-kali, ada banyak kualitas perumahan penduduk pada rumah subsidi. Seperti jalan lingkungan, air bersih, sanitasi listrik sering tidak bisa perhatian,” papar Lana.

Karena itu, sekarang ini katanya pihaknya tengah membuat team pelajari kualitas rumah bersubsidi itu, sekaligus juga membuat standard atau patokan minimal rumah bersubsidi yang perlu dibuat pengembang. Pemerintah akan menjatuhkan sangsi pada pengembang yang bermain-main dengan rumah subsidi.

Artikel Terkait : Harga Susu

Kebijaksanaan itu akan diaplikasikan, mengingat pembangunan rumah bersubsidi beberapa memakai dana APBN.

“Kita kembali rumuskan detail tehnis rumah subsidi yang bisa dipakai untuk bangun rumah, kelak mesti sesuai dengan. Karena itu akan ada kebijaksanaan berkaitan material, konstruksi tehnologi serta mengawasi harga tanah untuk MBR supaya tidak naik,” tukasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *